Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup, pola makan sehat pun juga semakin populer.

Hal ini membawa dampak semakin banyak tempat yang menjual makanan dan bahan makanan sehat.

Berikut ini sejumlah tempat yang menyediakan makanan dan bahan makanan sehat di Yogyakarta.

1. Warung Bumi

Warung ini bukan hanya sekadar menjual makanan kepada pengunjungngnya, Warung Bumi ingin berbagi ideologi dan gaya hidup sehat melalui makanan.

Iskandar Waworuntu mengkonsep Warung Bumi dengan titik pijak yang berbeda dengan kuliner pada umumnya.

Ia melihat makanan tidak hanya sekedar melekat pada rasa juga nutrisi dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, Warung Bumi menghadirkan makanan alternatif yang halal, toyib dan barokah.

“Pada dasarnya semua makhluk hidup diciptakan secara tidak sia-sia, semua akan terurai dalam kemanfaatan. Semua makhluk hidup tidak akan meninggalkan sampah, bilamana ada residu itu menjadi ukuran bahwa konsumsi kita berlebih, hanya penuhi nafsu belaka, terjebak menggunakan hak kita dari alam yang melebihi kebutuhan kita. Akibatnya, akan merusak keseimbangan,” ujarnya.

Sebagian besar bahan pangan yang diolah menjadi menu berasal dari kebun yang dikelola sendiri oleh Bumi Langit Institute.

“Sayuran dipilih yang non pestisida, bahan-bahan lainnya non gluten, makanan dimasak tanpa MSG. Semua bumbu dari bahan alami, menggunakan minyak kelapa, sayuran musiman dari kebun sendiri atau kebun mitra kami yang telah terpercaya,” kata Yanti Sumara, pengurus Yayasan Wakaf Bumi Langit Institute.

Warung Bumi menyediakan ragam roti panggang, pisang goreng, serta tahu dan tempe goreng. Yang teristimewa, roti panggang ini dibuat sendiri dengan gandum, sorghum, ataupun multigrain yang dipermanis dengan olesan selai markisa, murbei, mangga, atau rosella buatan sendiri pula.

Pada menu sayuran kebun, pengunjung dapat mencicipi pilihan menu urap Bali, pecel, terong balado maupun tumis sayuran segar. Tidak perlu khawatir, karena sayuran yang digunakan merupakan sayuran pilihan yang berkualitas.

Ada pula Nasi Paket Hemat yang berisi nasi pecah kulit dengan sayur bening, tahu, tempe dan sambal mentah.

“Nasi pecah kulit ini merupakan nasi yang mengalami satu kali proses pecah kulit, sehingga warnanya masih kecokelatan. Kandungan manfaat gizi nasi ini 90 persen lebih baik daripada nasi putih,” beber Yanti.

2. Pasar Kamisan

Pasar Kamisan adalah pasar sehat berbasis komunitas yang digelar setiap hari Kamis pukul 09.00 hingga 13.00.

Dikatakan Citra Kirana (26) selaku Humas Pasar Kamisan, pasar ini mulai hadir pada tahun 2014 yang lalu.

“Pasar ini pertama kali hadir di daerah Maguwoharjo. Dan dulu yang pertama kali menginisiasi adalah Bu Janti Wignjopranoto,” jelasnya.

Saat ini pasar Kamisan digelar di Rumah Animalika Jalan Kaliurang Km.9,5 Sleman, Yogyakarta. Di pasar ini pengunjung bisa menemukan beragam bahan pangan, sayuran,makanan,minuman serta kosmetik, dari 19 vendor yang menjadi anggota Pasar Kamisan.

Semua produk yang tersedia berbahan baku lokal, sehat, dan non-daging.Beberapa vendor yang gabung dengan pasar ini adalah Kebun Kita, yakni kebun organik berskala rumahan yang memproduksi berbagai macam produk pangan dalam kemasan.

Variasi produk yang dipasarkan berupa berbagai jenis selai, sirup dan minuman rempah dengan resep asli nusantara.

Kemudian ada Kedai Gambir Wangi yang menyediakan berbagai masakan vegetarian tradisional Jawa yang dimasak tanpa bahan penyedap sintetis. Sayuran dan beras organic menjadi bahan baku utama, demikian juga beberapa pilihan lauknya.

Masih ada Kurogome Zushi, vendor milik Harry Nugroho ini menyediakan beragam jenis sushi vegan berbahan dasar beras hitam organic dan sayuran organik.

3. Art Kitchen Greenhost Hotel

Art Kitchen Greenhost Hotel menghadirkan beragam menu sehat melalui program Fit Friday. Melalui Fit Friday, setiap hari Jumat kami menyajikan beragam menu dengan bahan organik dan cara memasak yang sehat

Beberapa sayuran oraganik yang disediakan seperti selada, pakcoy, dan beberapa sayuran lainnya. Selain itu, ada juga sayuran yang memiliki beragam manfaat seperti pagoda yang ditambahkan di beberapa menu Fit Friday.

Salah satu menu yang bisa dipilih dalam Fit Friday adalah Talamia Poached Egg. Menu ini berupa daging ikan talamia yang dimasak dengan cara pan fry. Daging ikan tersebut disajikan bersama mashed potato, slada, timun, vegan mayo, mushroom saus blackpaper, daun pagoda, pouched egg (telur ceplok rebus), dan bawang bombai.

Tekstur daging ikan talamia terasa begitu gurih. Penyajiannya dengan beragam sayuran membuat hidangan terasa begitu segar. Tambahan mushrom yang dimasak dengan saus blackpaper semakin menambah kekayaan rasa.

Tidak hanya menyediakan menu sehat, di Fit Friday juga menyediakan minuman yang juga sehat, seperti belly remover. Minuman ini terdiri dari timun, jahe, dan serai.

Di luar menu Fit Friday, Art Kitchen memiliki menu-menu reguler yang tidak kelah menggoda. Bebek obong sambal matah, bebek selat malaka, ayam kampung goreng rempah, beragam jenis steak, adalah beberapa menu yang bisa pengunjung pesan.

4. Lokaloka Bistro

Citarasa makanan Prancis yang sederhana dan tidak banyak bumbu, diperkenalkan Lokaloka Bistro dalam beragam menu sehatnya. Tidak hanya menu-menu Prancis, Bistro ini juga memadukan dengan bahan-bahan lokal yang ada di Indonesia.

Owner Lokaloka Bistro, Sarah Diorita yang memiliki darah Indonesia ? Prancis sengaja ingin mengenalkan ragam sajian Prancis dengan citarasa yang khas. Termasuk juga minimnya penggunaan bumbu-bumbu dalam olahan makanan yang justru menonjolkan rasa asli dari bahan makanan tersebut.

Lokaloka menyediakan varian Cassava Chips, Tartines Pesto Maison, Cassava Platter, Quiche du Jour dan Soupe du Jour pada menu pembuka. Dalam makanan pembuka ini, Lokaloka Bistro juga memadukan bahan lokal, yakni singkong yang diracik dengan selera Prancis.

Hidangan khas asal Prancis, Ratatouille juga disiapkan Lokaloka Bistro dalam kategori Salad, Crepes dan Croque-Monsieur. Jika di Indonesia, Ratatouille mirip dengan hidangan Sayur Lodeh yang dibuat lebih kering.

Meskipun lezat, namun biasanya penampilan olahan terong ini terbilang tidak menarik sehingga banyak anak-anak menghindarinya. Dengan racikan spesial, Lokaloka Bistro pun mengkreasikan Ratatouille sebagai isian salad, topping crepes maupun isian sandwich nan menggugah selera.

Croque-Monsieur juga siap menyambut pengunjung yang ingin menyantap makanan berat. Sandwich ala Prancis ini disediakan dalam beberapa varian pilihan, yakni Le Classique dengan isian smoked beef dan keju, Le Complet dengan tambahan jamur, serta Le Vg dengan isian keju, bayam dan jamur.

Ada pula pilihan Poulet yang berisikan keju dan ayam organik serta Ratatouille yang berisi terong, tomat, keju feta dan zucchini. Semua Croque-Monsieur ini dapat dinikmati dengan satu telur mata sapi dalam menu Croque-Madame yang memberikan ekstra protein dan rasa gurih.

Lokaloka Bistro juga membuat sendiri semua roti, yoghurt, serta cold pressed juice dari bahan-bahan terbaik dan menyehatkan.

5. Mie Lethek Mbah Mendes

Meskipun hadir belum terlalu lama, yakni sejak November 2014, tetapi mie lethek Mbah Mendes sudah memiliki banyak pelanggan. Menjadikan mi letehek, mi khas Bantul yang terbuat dari tepung tapioka (singkong) menu di warung ini patut anda coba.

Selain rasa, dengan mengusung konsep warung makan tradisional yang sehat menjadikannya berbeda dengan warung makan kebanyakan.

“Semua makanan yang ada di sini diolah tanpa menggunakan bumbu penyedap atau msg,” ujar Hanung Sudibyono selaku pemilik Mie Lethek Mbah Mendes.

Lebih lanjut dia mengatakan, mi lethek yang menjadi andalan tempat makannya juga bahan makanan sehat karena rendah gluten (gula) dan sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet.

Mi yang menyerupai bihun tetapi dengan tampilan lebih kusam tersebut diolah menjadi berbagai menu. Mi lethek godog, mi lethek goreng, plencing godog, plencing goreng, adalah beberapa menu andalannya.

Menu mi lethek godog hampir menyeruapai bakmi jawa godog. Mi lethek dimasak bersama sejumlah sayuran seperti loncang, sledri, wortel, serta tambahan telur, dan daginga ayam kampung.

Untuk kuah digunakan kaldu ayam kampung yang rasanya benar-benar gurih. Meski tanpa menggunakan msg, menu ini begitu terasa gurih dan nendang. Hal ini karena racikan yang pas dari beberapa bumbu yang digunakan.

Dikatakan Hanung, penggunaan bawang putih dan kemiri yang berani membuat olahan mi lethek Mbah Mendes terasa nendang. Untuk menu plencing, hampir sama dengan mi lethek godog ataupun goreng. Yang membedakan adalah citarasa plencing lebih manis dan pedas.

Rasa yang berbeda ini karena untuk menu plencing (baik godog dan goreng) menggunakan tambahan kecap dan irisan cabai rawit. “Konsumen bisa memilih level pedas dari menu plencing yang mereka pesan,” jelas Hanung.

Di Mie Lethek Mbah Mendes juga menyediakan nasi goreng, tetapi nasi yang digunakan terbuat dari jagung yang juga rendah gluten sehingga baik untuk kesehatan. (Tribunjogja/Hamim Thohari)