Oalah mas, lha wong sudah simbah-simbah kok di foto. Itulah sapaan ramah dari Bu Sumiyati yang akrab di panggil Bu Sum ketika saya meminta ijin memotret proses penenunan di workshop beliau. Sebagai salah satu pemilik kerajinan tenun di Desa Wisata Gamplong, Bu Sumiyati termasuk salah satu dari pengrajin tenun yang besar dikarenakan memiliki banyak alat tenun bukan mesin (ATBM). Dengan di irirngi keramahan beliau saya diperbolehkan masuk ke ruang produksinya untuk mengambil gambar dan ngobrol dengan para penenun.

Perlu diketahui, Desa Wisata Gamplong sebenarnya adalah wilayah yang berada di bawah desa yaitu pedusunan. Pedusunan Gamplong berada di desa Sumber Rahayu, Mouyudan, Sleman DIY. Sudah turun temurun bagi masyarakat desa ini dalam mengeluti kerajinan tenun. Melihat proses kerajinan tenun ini bagaikan sebuah jalan cerita yang panjang dalam merangkai pecahan-pecahan kehidupan untuk menggapai sebuah mimpi. Dengan suara khas kayu saling bergesek para penenun tersebut seperti merangkai sebuah cita-cita yang berada di seutas benang untuk saling bersatu menjadi sebuah kain.

Alat Tenun Tradisional Desa Wisata Gamplong

Penggunaan alat tenun bukan mesin (ATBM) menjadi ciri dari desa wisata Gamplong sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung bahkan ada yang ikut singgah merasakan aktifitas kerja tradisional warga di desa ini.

Obrolan singkat dengan Bu Sum menjadi semacam wild card bagi saya untuk masuk dan mengganggu ibu-ibu yang sedang bekerja menenun benang. Dengan mengucap salam dan pasang tampang meyakinkan saya berhasil ngobrol dengan salah satu dari mereka.

Bu Djuwariyah (60 th) nenek dari 3 cucu ini, menceritakan proses nyucuk untuk pertama kalinya sebelum benang siap untuk di tenun. Dengan penuh teliti dan telaten jari-jarinya memasukan seutas demi seutas masuk ke sebuah alat yang disebut sumi untuk mengatur kerapatan setiap benang yang akan di tenun menjadi selembar kain.

Di desa Gamplong selain menenun dengan benang pintal, para pengrajin menenun dengan bahan baku yang bermacam-macam, mulai dari enceng gondok, lidi kelapa, akar wangi dan mendong. Keberadaan dari bahan baku tersebut masih di datangkan dari berbagai tempat, enceng gondok dari Ambarawa dan lidi kelapa (janur) dari Banyuwangi

gamplong-7Kreatifitas warga desa Gamplong dalam menekuni kerajinan tenun, sudah mendapat apresiasi yang luas tidak hanya di DIY tapi sudah sampai ke tingkat manca negara. Tidak ketinggalan pula negeri kangguru Australia menjadi pelanggan tetap hasil kreasi kerajinan desa Gamplong ini. Produk-produk yang biasa di ekspor di Australia ini berupa berupa tas, gorden, tikar dan masih banyak lagi model dan ragamnya.

Untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan dan SDM, para pengrajin di Desa Gamplong membentuk sebuah wadah pembinaan yaitu Kelompok Perajin Tegar (Teguh, Ekonomis, Gagah, Amanah dan Rajin). Dari hasil pembinaan ini setiap bulannya setiap kelompok bisa mengndapatkan omzet sekitar 75 sampai dengan 100 juta.