Warga Tionghoa membersihkan debu dengan kuas sebelum memandikan patung-patung dewa dan dewi beberapa hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Kuil Fuk Ling Miauw, Gondomanan, Yogyakarta, Senin (4/2). TEMPO/Suryo Wibowo

Yogyakarta – Datang dan nikmati kemeriahan Pekan Budaya Tionghoa di Kampung Ketandan yang ada di sisi timur Malioboro, Yogyakarta. Dibuka sejak Ahad, 5 Februari lalu, keriaan ini akan berlangsung sampai 11 Februari. Ini sudah kedua belas kalinya, kata Ketua Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun, Rabu, pekan lalu.

Berlangsung sejak 2005, even ini menjadi ajang penampilan budaya, kuliner, dan seni pertunjukan. Memilih tema Pelangi Nusantara, Pekan Budaya Tionghoa kali ini menampilkan berbagai budaya Nusantara. Meski keturunan Tionghoa, mereka kini telah menjadi warga negara Indonesia, kata Tri.

Selain pentas budaya dan bazar kuliner, panitia pekan budaya juga menggelar sarasehan batik peranakan.

Pada tahun ini, pekan budaya akan berlangsung selama tujuh hari. Sementara tahun sebelumnya berlangsung lima hari.

Kampung Ketandan terletak di sisi timur Jalan Malioboro. Ini merupakan kawasan Pecinan di Yogyakarta. Keberadaan orang Tionghoa di Yogyakarta sudah sejak lama. Bahkan, pada era Sultan Hamengku Buwono III terdapat seorang tokoh Tionghoa bernama Tan Jing Sing di kampung itu.

Tokoh masyarakat Tionghoa Ketandan, Jimmy Sutanto, mengatakan gagasan menggelar Pekan Budaya Tionghoa ini muncul pada 2005 ketika profesor ilmu pertanian UGM Murdijati Gardjito meneliti resep masakan Tionghoa di Yogyakarta. Saat itu terpikir kenapa tidak bikin pekan budaya sekalian, katanya.

Meski digelar bersamaan dengan Tahun Baru Imlek, menurut dia, pekan budaya ini tak sekadar menampilkan budaya dan kuliner Tionghoa. Orang-orang keturunan Tionghoa dan budayanya kini telah berakulturasi dengan masyarakat Nusantara. Jadi momentumnya saja pas Tahun Baru Cina, tapi budayanya telah menjadi budaya Nusantara, katanya.

ANANG ZAKARIA